First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Advertisements

Pertemuan Penuh Cinta Part 2


Bertemu Cinta yang sama

Di setiap butir cinta dan rindu selalu terisikan angan pada sebuah pertemuan. Padahal jelas sekali jika puncak rasa cinta dan rindu itu tidak hanya sekedar bertemu.
Bagaimana kemudian kau mengobati rasa yang menjajah di hampir seluruh aliran darahmu itu? Apa kau akan memanggil namanya di setiap waktu? Atau kau akan menyatakan perihal rasa itu padanya di setiap hari? Ah, lalu sanggupkah dirimu memujinya di setiap detik? Di setiap engkau menghembuskan nafasmu? Berlebihan rasanya bukan?
.
Hanya kepada-Nya juga kekasih-Nya selayaknya segala cinta dan rindu itu kita alirkan di setiap rongga jiwa. Namun sebagai manusia biasa, pun tiada salahnya ketika kita merasa rindu dan cinta pada sesama. Yang kemudian membuat kita ingin jumpa.
.
Bukan hanya “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono saja yang memberiku arti sebuah kata. Hujan Bulan April ini pun tak kalah indah memberiku makna. Lebih dari sebuah kata.
.
Di Ahad kemarin adalah hari yang ku nantikan. Kenapa? Tentu semua karena rasa cinta dan rindu yang dalam pada hatiku. Sehingga aku ingin bertemu dengannya. Karena selama ini, Amunisi terdahsyat yang di rancang olehnya selalu berhasil memporak porandakan pertahanan jiwa. Apalagi jika bukan kata-kata yang berserakan dalam karyanya.
.
Mungkin aku terlalu berbelit-belit menyebutkan pertemuan ini. Karena entah harus dengan ekspresi yang bagaimana lagi untuk menjelaskan betapa inginnya aku berlama-lama menatap Ia berdiri. Mendengarkan kata-kata yang mengalirkan Energi semacam strum pada aliran listrik. Aku ingin sepertinya, gumamku.
.
Tidak ada sihir, tidak ada mantra, untuk membuat yang lain jatuh cinta. Karena setiap kata yang dilahirkannya selalu berasal dari hati. Ingatkah, bahwa segala apapun yang dilakukan dengan hati akan sampai pada hati pula. Selain itu, Realistis adalah point yang tidak kalah penting dalam jatuh cinta. Begitu yang ku dapat dari setiap Amunisi yang dilancarkannya.
.
Dalam pertemuan itu pula aku di bersamai oleh teman dan bertemu teman lainnya. Menikmati cinta bersama, berkumpul dalam gedung yang penuh cinta. Amboiii nian rasanya…
.
Dengan ini jelas sudah tanda-tanda kekuasaan-Nya. Kita, telah sama-sama jatuh cinta. Lalu kita tiada daya untuk menjelaskannya. Semua adalah kehendak-Nya.
.

Jakarta
, 22 April 2018
-Tempo

Di halaman yang baru

Aku tak pernah tau. Bagaimana cara menghentikan rindu. Seperti saat ini, saat aku merasa tidak ingat akan segalanya.
.
Dari matamu kemudian aku sadar, ada rindu hadir dalam hati. Kamu yang tersenyum seakan menarikku kembali pada ingatan-ingatan yang belum pulih ku kenang. Tetapi senyummu itu, membuatku terpesona tiada jeda.
.
“Kamu ingat ini?” Katamu memberikan selembar sertifikat kepadaku.
“Ini punya siapa?” Jawabku masih tidak mengingat apapun setelah meraih dari tangannya.
“Lihat saja!” Kau nampak memaksaku untuk berusaha mengingatnya.
Kulihat lebih lama lagi. Tertuliskan sertifikat pemenang lomba cipta puisi bertema “Rindu” kepada “Siti Khairunnisa”. Lalu, “kenapa di berikan padaku?” Ujarku dalam hati.
Aku menoleh ke arah laki-laki berkacamata yang tengah duduk di samping ranjangku. Ia tersenyum menunggu sebuah pernyataan dariku. Tetapi, entahlah. Rasanya, aku tidak mengerti dengan semua ini. Singkatnya, aku tidak ingat kehidupanku sendiri!
.
Bagaimana mungkin aku lupa. Sementara rindu saja sudah menyapa setiap saat menatap matanya. Bagaimana pula aku bisa lupa. Sementara senyum indahnya sudah membuatku terpesona. Dia, pastilah orang yang ku damba. Tetapi, siapa?
.

Semesta Mengukir Rasa “Part 2”

Oleh: Oey Iey

‘Alama-Ya’lamu-ilman

Di setiap aku merasa beruntung dan bahagia. Aku merasa terbunuh saat itu juga. Bagaimana tidak? Jika semua yang aku nikmati ini. Belumlah seberapa dengan perlakuan diri sebagai seorang hamba-Nya.
Sering aku bertanya. Dimana letak kecintaanku terhadap-Nya? Dimanakah pula letak kerinduan ku kepada junjungan umat sepanjang abad?
Seluas samudera yang terlampaui jarak manusia. Tentu lebih luas kasih dan ampunan-Nya. Sebagai hamba, pun sudah sepatutnya “Sami’na-Wa’atho’na”
♧♧♧
Dulu, saat aku berusia sekitar empat tahun. Aku mulai mengingat kejadian-kejadian yang menyakitkan maupun sebaliknya, hanya sebagian. Hingga beranjak tumbuh dan berkembang. Daya ingat pun menampung banyak kejadian hingga menumpuk pertanyaan yang sebagian terjawab dan sebagian lainnya menggelantung dalam jantung.
Jatuh bangun aku meratapi setiap kejadian saat itu. Merasa lelah dan tidak mengerti tentang segala hal. Namun begitu, langkah ini tak pernah patah. Terus mengayun hingga air mata di pipi pun mengering dengan sendirinya.
Setelah itu, aku menyadari akan hadirnya Energi. Yang menahanku untuk tetap berdiri walau kedua engsel sendi pada lutut sudah rapuh. Yang mendorongku supaya terus maju walau telapak kaki mulai melepuh.
♧♧♧
Sekarang, anggap saja sudah berganti BAB. Menemukan halaman baru, catatan baru. Yang meski berkesinambungan. Namun ada perbedaan, ada perubahan. Menuju arah yang lebih baik.
Di halaman yang berjumlah 365 di kali 24 ini. Perlahan, aku menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang ku ajukan.
Berawal dari belajar untuk mengerti, memahami, dan menerima.
♧♧♧
Duhai Dzat Yang TerMaha, saksikanlah! Aku menderita oleh kebodohanku.

Serang, 02 April 2018

Mutiara Hikmah

Matahari begitu teriknya menerobos celah dedaunan di sepanjang jalan menuju kantin. Hanya ada beberapa pohon besar yang setia memberi keteduhan pada sebagian lainnya. Sebagai buruh biasa, kami berburu makan siang dengan segera. Guna mengisi tenaga yang habis di empat jam kerja episode pertama. Aku salah satunya, berjalan seakan berlari guna mengejar beberapa butir nasi. Berazam untuk tidak mendzolimi diri yang di perah setiap hari.
Rupanya perjuangan kami tak sampai di situ. Harus mencoba untuk belajar sabar dan disiplin guna mendapatkan suatu hal. Sekalipun itu memanglah Hak kita sendiri. Kita mengantre dengan antrean yang lumayan panjang. Dan tentu masih dalam situasi melepuhnya ubun-ubun dari terik mentari di sepanjang jalan tadi.
Allahu Akbar. Begitu megahnya lautan nikmat yang tercurah lewat peluh ini.
Selesai mengantre lauk pauk, kami mengantre lagi untuk mengambil nasi. Bayangkan! Betapa hebatnya teman-teman semua dalam belajar sabar dan disiplin di sini.
Tetapi kali ini berbeda, aku mematung sesaat. Ketika sebagian ibu-ibu berebut sebongkah nasi yang tersedia. Bahkan Ibu yang lainnya mengambil beberapa butir nasi yang tersisa.
Sudahlah ya. Yang penting ada nasi masuk!” Ujarnya ketika masih sibuk mengambil satu, dua butir nasi yang ada.
Tak terasa aku meneteskan air mata begitu saja. Menyaksikan ibu-ibu itu pergi melewatiku yang masih mematung. Tidak sadar bahwa diriku pun harus berjuang mendapatkan beberapa butir nasi nantinya.

___
Tidak ada sesal dari kejadian yang ku temukan siang kemarin. Aku sangat bersyukur mendapatkan segala nikmat yang begitu hebat. Dari sudut inilah, aku merasakan sentuhan kasih-Nya dalam membimbing diri meneladani beberapa adab yang di ajarkan Ibu, Guru, serta kawan-kawan hebat semua.
Jika dengan jatuh bangun kita mampu merasakan nikmat. Untuk apalagi mencari ketinggian yang bisa saja membawa mudarat? Ah! Malah Terkadang kita sendiri yang mengingkari kenikmatan itu.
Kita yang sering membuka rantai penjagaan diri hanya untuk membenarkan keserakahan pribadi. Sungguh!

Air mata yang menetes itu. Bukan suatu pernyataan akan kebenaran diri. Karena itu semua tak lebih dari upaya pengakuan. Atas ketidakberdayaan diri membenarkan sikap. Atau bisa saja sebaliknya. Bisa saja.

___

Dalam perjalanan menemukan sebuah Rasa.


Oleh : Oey Iey

Tinta yang sempat koma

Malam ini, aku sempurna merasa hampa. Tersebab sebagian cinta yang tak ku rasa dalam tumpahan tinta. Kemarin, sepekan demi sepekan waktu begitu saja berlalu. Hingga kemudian tintaku beku. Ada yang ikut menjadi kelu karena semua itu. Apalagi jika bukanlah kata-kata.
Menulis, bagiku juga merupakan manifestasi sebuah rasa. Apapun itu bentuknya. Dengan menulis, setiap kata seakan mampu bernafas dengan sendirinya. Wajar saja, jika malam ini aku merasa hampa tanpa bejibun kata-kata.
Kemudian aku mulai berlari untuk mencari. Dalam benak pun tiada henti aku memaki. Salahku memang. Sudah menutup beberapa jendela dengan sendirinya. Bahkan terhadap beberapa jendela yang masih terbuka. Aku mengabaikannya begitu saja. Dan wajar juga, jika kemudian aku tak mampu menatap dunia.
Kemarin, aku sempat bahagia menapaki jembatan yang terhampar dengan kata-kata miliknya. Aku bagai melesat maju bebas hambatan. Terus melaju seakan terbang. Hingga akhirnya ku dapati sebuah pintu. Apalagi namanya jika bukan pintu keluar. Ya, bukankah setiap jalan yang bebas hambatan tentu akan di pertemukan dengan pintu keluar?
Aku sadar, menghidupkan tinta tidak tepat jika di pinjamkan sebuah jembatan. Bukankah sudah ada dalam pribahasa yang familiar jika “berakit-rakit dahulu kemudian berenang-renang ketepian” tidak di temukan jembatan dalam perumpaan itu.
Aku membutuhkannya bukan hanya sekedar untuk menjembatani saja. Sejujurnya, aku menginginkannya hidup bersama dalam setiap nafas tinta yang ku tumpahkan. Namun apa daya jika kemudian jembatan yang sempat ia buat justru tak sempat ku tapaki. Terhampar begitu saja dan sudah di pijak beberapa orang yang ikut melewati jembatan itu.
Dengan begitu, aku kemudian hanya mampu mengulas senyum. Katanya benar, dia memang sudah menjembatani beberapa penyebrang itu. Tetapi aku? Tak sempat ia tanyakan. Bahwa kenyataannya kini, aku lemah tak mampu berjalan.
Menulis itu sama halnya juga dengan bermetamorfosis. Jika kepompong kemudian menjadi kupu-kupu. Tak ada bedanya dengan menulis. Dari setiap kata menjadi sebuah kalimat kemudian paragraf hingga beberapa halaman. Dan tidak sampai disitu. Beberapa orang sudah mampu menumpahkannya dalam berbagai judul. Ah, kemudian kita seakan terbang bagai kupu-kupu. Menghinggapi beragam aroma bunga yang mewarnai sayap berwarna dari kupu-kupu itu sendiri.
Kini, langkahku tak sampai pada jembatan yang di canangkannya. Bahkan sudah tertutup sebagian oleh penyebrang yang sedari tadi menapaki.
Biarkan aku hanya memakai rakit untuk menyebrang ke sana. Biarkan kemudian aku belajar berenang membawa ragaku berpijak di tepi sana. Asal kau tetap menjadi Matahari yang menyinari. Asal kemudian kau menjadi Rembulan yang meneduhkan. Asal kau kemudian tetap memayungiku dengan kasih dan sayang.

Menulis adalah upaya menjadi legendaris bagi pewaris kita selanjutnya. Tidak muluk-muluk menjadi penulis yang terlaris
. Baik jatuh maupun terbangun. Asal kita tetap menulis. Baik suka ataupun duka. Kita semangat menghidupkan kata-kata. Baik di temani atau sendiri. Tinta kita tak kehilangan ruhnya.
Malam ini, aku membuka beberapa jendela yang sudah berdebu di sudut itu. Sambil bergumam renyah kepada aksara. . . . .

“Kamu, akan tetap hidup di sini. Di dalam jiwa dan langkahku”

Serang, 13 March 2018

Di Halaman 24

Faktanya, naik itu ke atas. Sedang turun, sudah pasti ke bawah. Mundur ke belakang dan maju adalah ke depan.
***
Bagiku, ditinggalkan atau meninggalkan adalah sama saja – sakit. Sedang kenyataannya, waktu terus melaju maju tanpa sedetik pun memberi kesempatan mundur. Ada banyak kejadian yang kemudian kita ingat atau malah lupa begitu saja.
Ruang dan waktu merupakan dimensi yang angkuh terhadap pemilik ruh di alam ini. Bagaimana tidak? Tentunya diri sendiri akan lebih memahami.
***
Sementara dalam benak. Ruang itu seakan tiada. Entah di mana dan sebesar apa. Jangankan untuk di lihat dan di raba. Di bayangkannya saja tak mampu. Karena benak adalah akar dari setiap sel saraf sensorik, motorik maupun konektor.
Dan waktu. Bagaimana mungkin kita memberhentikannya begitu saja?
Waktu, lebih kejam. Ia senantiasa memberi rasa pada ruang. Meski pada nyatanya, ruang ini tak mampu untuk menampungnya.
Waktu, juga mendatangkan hingga menghilangkan seseorang begitu saja. Tanpa menghilangkan rasa yang di buatnya.
***
Sahabat, rasanya kemarin kau masih di sini. Membersamaiku dalam suka maupun duka. Lalu kita membaginya bersama.
Sahabat, belum hilang dari pandangan. Kau mencuil tawa renyahmu hanya untuk kemudian membuatku menghentikan derai air mata.
Sahabat, pundak kita adalah saksi kebersamaan menumpahkan resah kepada sesama. Meski memang tetap pada-Nya kita merintih.
Sahabat, tak ada yang selembut perangai indahmu kini. Tak ada jua yang setegas perlakuanmu dalam menyelamatkan penjagaan diri.
Sahabat, kini aku sendiri. Berlari dan bersembunyi dari topeng-topeng yang menakutkan.
Sahabat, aku takut. Sungguh!!!
***
Kenapa harus ada sebuah rasa dalam perjalanan ini? Terlebih adalah rasa cinta kepada sosok yang di damba. Sejujurnya, aku pun tidak menginginkan seperti ini.
Aku berusaha keras untuk tidak merasa. Aku berusaha berlari agar lupa. Tetapi kenapa masih tidak kuasa?
Padahal jelas. Dia yang di damba entah merasa atau tidak. Padahal jelas. Dia yang di puja entah menyayangi diri atau tidak.
Padahal jelas. DIA hanya menguji diri lewat dia.
***
Sahabat, seandainya kau masih membersamai. Aku tak akan selelah ini.
Sahabat, seandainya tawamu masih memantul dalam ruang ini. Tentu air mataku sudah berhenti sejak tadi.
Sahabat, apa kau baik-baik saja di sana???
***
Ruang dan waktu sekana bernyanyi memanggil diri untuk kembali kepada-Nya.

“DIi Halaman 24” – Oey Iey

Kemudian waktu yang menjawab semuanya

Ada yang tak pernah hilang dari ingatan – Kenangan.

Kau tersenyum melihatku. Memberikan sepatah kata yang sempurna memutar balikkan keadaan pada sebuah masa lalu. Tak peduli seberapa lelahnya kau berjuang menembus waktu untuk bertemu. Yah, bagiku begitulah raga manusia jika tengah merasa cinta dan ingin memiliki.
Lalu kau, menceritakan sebuah kehidupan baru yang katamu hampa tanpa kehadiranku. Dan tersebab itulah mengapa detik ini kau menemuiku.
Kau tak pernah salah memutuskan untuk pergi. Karena bagiku, kepergianmu adalah jalan menuju penemuan yang terbaik untuk perjalananku yang abadi kelak. Bersamamu seumpama teka-teki sebuah alasan atas rasa itu sendiri.
Kau tentu ingat bukan? Lembaran kertas yang tidak lebih dari sepuluh halaman itu menjadi saksi bahwa kita pernah bertukar harapan. Kita pun pernah menumpah asa. Merangkai mimpi indah bersama.
Kemudian, aku berhenti melayangkan kertas lagi. Cukup bagiku saat asa itu tertumpah menjelma aksara yang kau baca. Dan kau, justru berbalik arah untuk pergi meninggalkan lembaran yang memang sengaja tak ku jawab.
Hatiku memang pilu. Tetapi setidaknya aku tahu. Kenyataannya kau tak membutuhkanku. Walau memang kau menganggap itu adalah karenaku.
Aku belajar mengeraskan hati kala itu. Menata sedikit demi sedikit asa yang sempat terporak porandakan oleh tiang yang rapuh.
Aku yakin jika suatu saat sesuatu yang lebih baik akan datang. Dan inilah jalannya.
Kini, aku sudah bangkit. Bahkan lebih dari sekedar bangkit. Kau paham tentunya. Aku sudah mulai berjalan mewujudkan mimpi bersama seseorang yang bukan hanya menumpahkan asa di atas selembar kertas saja. Seseorang itu justru lebih dari sekedar memberikan harapan. Dia memberiku ruang untuk berjalan beriringan bersamanya. Dia jualah yang kemudian membangunkanku dari sebuah mimpi.
Apa kau kini sudah memahami? Bahwa jalanku bukan jalanmu. Bahwa asaku bukan padamu. Bahwa hatiku bukan untukmu. Bahwa segala yang ku semogakan bukan tentangmu.
Kau, kembalilah pada kehidupanmu. Aku sudah sangat baik bertemu dengannya. Aku sudah sangat bahagia menumpuk asa bersamanya. Dan aku, mencintainya.
Kau, bahagialah dengan kehidupanmu. Meski tanpaku.

Oey Iey _ Serang, 28 Feb 2018

Sepaket Rasa di bawah Atap yang sama

Tangisku seakan meledak saat itu juga. Ketika aku menahan segala perih yang tiba-tiba merayap di seluruh syaraf jiwa. Semua begitu saja terjadi hanya oleh sepasang mata. Siapa lagi kalau bukan mata indah yang DIA titipkan pada jiwa itu. Jiwa yang mengutuhkan jiwaku – kamu.
♧♧♧
Siang itu langit tak memberi isyarat akan turun hujan atau sekedar berawan. Langit begitu sempurna menampakkan wujudnya. Biru cerah dan indah. Aku pun begitu, menikmati hari dengan penuh semangat. Sesekali menyapa hangat tetangga yang menjemur pakaian atau mereka yang sekedar berkumpul di warung depan membahas harga kebutuhan pokok. Dengan terus mendorong baby stroller aku melangkah penuh ke hati-hatian. Mencari jalanan teduh agar buah hatiku tak kepanasan. Seandainya bukan karena hal yang amatlah penting. Aku lebih baik tak membawa Hilwa yang masih berusia tujuh bulan ini keluar rumah. Tetapi Hilwa terlihat menikmati lingkungan sekitar yang nampak terik. Bayi perempuanku ini selalu kegirangan setiap mendapat sapa dari orang-orang. Dengan begitu kekhawatiranku sedikit hilang.
Saat itu aku tidak bisa menolak permintaan Ibu PKK kampung sebelah untuk turut serta dalam pengembangan SDM di Desa. Katanya di sana akan hadir beberapa teman yang aktif dalam membaca dan menulis. Meskipun kegiatan yang di rencanakan bukanlah itu. Tetap dua point itu yang mendorongku melangkah ke sana.
♧♧♧
Selayaknya waktu yang terus berputar. Matahari pun mulai tumbang pada peraduannya. Aku sudah di rumah menunggu suami pulang. Rindu kepadanya seakan tak pernah habis. Meski sosoknya belum melangkah di sisi sekalipun. Begitulah kuasa-Nya yang telah memberi rasa cinta kepada makhluk dengan sangat indah seperti ini. Di tengah kesibukan ku menenangkan Hilwa yang tiba-tiba rewel. Pintu rumah pun di ketuk seseorang yang belum ku tahu siapa.
Ah, bagaimana lagi harus ku rangkai kata guna menjelaskan kepedihan di hati. Sepertinya kata PEDIH saja belum cukup menggambarkan rasa sakit yang sebenarnya ini.
Di hadapku, tengah berdiri Suamiku, bersama wanita lain yang aku kenali. Bahkan aku tahu siapa Ia jauh sebelum aku hidup bersama Suamiku sendiri.
Layla, Wanita yang lebih muda empat tahun dariku adalah perempuan yang sempat dekat dengan suamiku dulu. Entah apa yang di rencanakannya kali ini. Aku tidak ingin banyak berandai-andai. Hanya ingin menangis dan memeluk Hilwa sang buah hatiku tersayang.
♧♧♧
Begitulah rupanya perjalanan hidup. Selalu sepaket oleh hal yang beragam. Tentu darinya ada hal yang membahagiakan dan sebaliknya. Ada kegembiraan juga kesedihan. Ada hitam dan putih. Ada Mawar merah atau Melati putih. Sehingga pun ada Kamu juga ada Dia.
Rupanya Layla adalah tamu undangan dalam acara Ibu-ibu PKK yang tadi siang aku setujui untuk berkecimpung bersama. Dan begitulah cara DIA menguji cinta di hati ini. Sejauh mana aku menjaga Amanah dan Beristiqomah karena-Nya.
Layla tidak sengaja bertemu Suamiku di persimpangan. Karena permohonan Kepala Desa untuk menerima Layla menginap tiga hari saja sebab belum adanya tempat yang tepat untuknya. Iya, itu tentu sudah di atur oleh-Nya. Sebagai Hamba, aku berusaha dan belajar menerima. Walau sebenarnya tak bisa.
♧♧♧
Pagi itu Hilwa menangis tiada henti. Sementara tugasku membuatkan Suami sarapan belum selesai. Layla datang dan membantu untuk menenangkan Hilwa. Aku senang ada yang membantu. Tetapi rasa senangku itu bercampur dengan khawatir dan ketakutan yang tidak mudah ku bendung. Oh, Rabby. Aku sungguh tidak ingin ada wanita lain di rumahku ini! Begitu batinku.
Sepasang mata kamu kemudian mampu menjernihkan hati yang keruh ini. Kamu berucap banyak hal yang membuatku yakin untuk bertahan. Ah kamu, selalu menjadi bagian yang paling mengutuhkan dalam jiwaku.
♧♧♧
Kegiatan siang ini di mulai kembali. Layla memperkenalkan dirinya sebagai saudaraku. Aku tidak keberatan dengan itu. Layla terus memberikan para peserta motivasi untuk bergerak maju. Sesekali Ia melirikku takut-takut ada yang salah. Aku hanya mengangguk setuju dan tersenyum padanya.
Batinku tiba-tiba menggerutu “Aku tidaklah lebih baik dari Layla rupanya“.

-Bersambung

Oey Iey || Serang, 03 Februari 2018

Di balik Fenomena Alam Semesta (Januari)

Malam ini, beribu pasang mata menangkap rembulan gelap. Tidak sedikit yang mengabadikannya dengan lensa masing-masing. Lantas berujar “Bulannya gak ada lho tadi!” Begitu yang ku dengar. Tetapi aku kemudian tersenyum dan melirik sebentar bulan yang memang mulai nampak sebagian di atas hamparan langit nan luas di sana.
“Ada cahaya rembulan di bumi saat gerhana bulan terjadi di langit” Gumamku dalam senyum yang masih mengembang. Lihatlah! Mereka yang memberiku shaf depan justru adalah gadis-gadis Belia yang tentu terpaut jauh lebih muda dengan usia ku. Ah, aku jadi malu rupanya di kelilingi kembang-kembang Desa yang mempesona bagai cahaya sang rembulan.
Bagaimanapun cinta dan rindu selalu beradu di waktu yang tak menentu. Seperti saat ini, dimana penangkapan Sains mengatakan bahwa gerhana bulan adalah akibat dari Bumi berada di antara Matahari dan Bulan yang terletak pada satu garis lurus yang sama, sehingga cahaya matahari tidak sampai ke Bulan karena terhalangi oleh Bumi. Dan tentu saja, Allah yang Menghendaki semuanya!
Bagaimanapun reaksi dari cinta dan rindu itu selalu menyesakkan. Semua atas kendali dari-Nya. Seperti saat kegelapan yang di hadirkan bulan sehingga membentuk Gerhana. Untuk kemudian muncul cahaya Rembulan di atas muka bumi kita.
Omong-omong, mengapa tulisan ini selalu mengaitkan kata rindu dan cinta? Entah apa yang di rasa, saat menyaksikan semesta. Aku selalu ingin menumpahkan rindu dan cinta kepadanya. Dari semesta yang terukir atas kebesaran-Nya ini, rindu dan cinta begitu saja mudah untuk di rasa. Meski beribu kosa dalam mengejanya. Hati ini, sejatinya selalu memiliki keinginan untuk bertemu pada Asa yang di rindu dan cinta-kan. Pada keabadian yang membawa seperangkat jantung kehidupan menuju keabadian.
Ah, akankah kelak aku melihat cahaya rembulan itu dari rahimku sendiri?
Rindu dan Cinta, aku percaya Allah telah mengaturnya dengan bijaksana.

Oey Iey _ Serang 31 Jan 2018

Profesi Luar Biasa

Siang itu Dia bersyukur menikmati pemandangan kota yang tertata hampir sempurna. Berbagai gedung pencakar langit seakan menyambutnya berupa hamparan jalan mulus nan ketertiban Lalu Lintas di sekitar. Dia duduk tepat di samping jendela tentu bukanlah suatu kebetulan, melainkan memang sengaja di pilihnya karena satu alasan “Dia ingin menikmati hamparan Ibu Kota”.
Dalam batinnya Dia bersyukur bisa menikmati perjalanan-perjalanan yang di rasakan orang lain. Setidaknya walaupun takdir tuhan menempatkan posisi insan di berbagai sudut, tetap Dunia dan Alam jagat Raya ini hanya milik-Nya semata. Jadi sudah sepatutnya untuk menikmati dan mensyukuri kesemuanya. Termasuk perjalanan yang di lakukannya hari itu.
Dia mengedarkan pandangan di sekitar Bus yang di naikinya. Terdapatlah beberapa orang dengan berbagai profesi. Yah, penampilan mereka memang sangat necis dan rapi. Bisa di katakan kesemuanya itu Good Looking. Dia bergumam di hatinya “Ah, apa daya ku yang hanya seorang buruh pabrik. Alih-alih berpenampilan necis atau Good Looking. Mendapati diri mandi sehari dua kali saja amatlah beruntung”
Dia kembali melihat pemandangan di luar. Nampak Menara Khas Ibu Kota tengah melambai mesra kepadanya. Lagi-lagi Dia menggerutu dalam hati “Aku atau pun mereka yang memiliki profesi berbeda. Pada nyatanya mampu menikmati hal yang sama”. Seperti hari itu, pada siang itu, dalam perjalanan itu, setiap penumpang yang berada di dalam Bus itu menikmati pemandangan yang sama. Bukankah itu adalah bukti! Bahwa derita atau bahagia hidup ini memang tiada beda?
Perjalanan masih berlanjut sekalipun Dia sudah turun dari Bus tadi. Dia melangkahkan kakinya pada sebuah Gedung ternama di Ibu Kota. Jelas sudah bagaimana berbedanya dengan keadaan pabrik yang di temuinya setiap hari. “Apakah aku tidak memalukan berada di sini?” Tanyanya dalam hati. Sembari terus berjalan masuk Gedung dan mencari alamat yang di tuju. Dia pun memperhatikan para pegawai yang tengah di sibukkan aktifitasnya. Tiba-tiba ada rasa ngilu atau entahlah dirasakan hatinya, lagi-lagi pegawai wanita mendominasi Gedung ini. Kenapa? Kenapa Dia harus merasa ngilu menyaksikan itu semua? Bukankah ada baiknya jika derajat wanita sama dengan pria?
Dia duduk di lobi dekat meja Recepsionist mengambil majalah yang tersedia di meja dekatnya duduk. Sepertinya memang begitulah cara pemimpin perusahaan tersebut mengajarkan pegawainya dalam menghargai waktu – dengan membaca.
Tidak membutuhkan waktu lama. Dia pun bergegas pergi meninggalkan Gedung itu setelah menyerahkan berkas yang di bawa. Dia melangkah pulang, dengan seribu pertanyaan. Sejatinya kuatkah tulang rusuk di jadikan tulang punggung?
Matahari sudah di peraduannya. Sementara keramaian kota semakin membungkus sekitar, lampu-lampu jalan di nyalakan sempurna melenyapkan gelap. Dia pun berburu tiket kereta bersama penumpang yang lainnya. Kereta akhirnya tiba tepat waktu. Perebutan pintu pun tak ter’elakan.
Dia duduk di samping seorang Ibu yang membawa keranjang dan gerendolan lainnya Semacam Bakul. Kalian tahu bentuk Bakul bukan?
Penasaran Dia basa basi bertanya. Ini dan itu. Ke sana dan kemari. Semuanya terjawab dan tersimpulkan olehnya bahwa Ibu tersebut adalah tulang punggung keluarganya. Lagi dan lagi ada tulang rusuk yang menjelma menjadi tulang punggung. Sudah berapa? Tidak terhitung.
Langit malam semakin menaburkan kegelapan. Terlebih sesampainya Dia di Kampung tempatnya tinggal. Dia merebahkan tubuhnya dan melafal pertanyaan dalam benak. “Apa semua buruh di sini adalah tulang punggung keluarganya?”
Bagaimana kemudian Dia bersikap jika memang jawabannya adalah “Ya”. Buruh wanita adalah tulang rusuk yang menjelma menjadi tulang punggung di Era ini. Biarlah semua berjalan begitu adanya. Tetap keadilan atas Hak dan tanggung jawabnya adalah sasaran utama bagi semua.
“Teteh berenti jadi buruh juga bukan karena udah kaya. Biarlah, gantian suami yang kerja. Anak teteh empat tidak terurus” Ujar Teh Sar sore itu saat bersalaman.
Dia tersenyum. Setidaknya profesi Buruh telah sukses menyelamatkan keresahan kaum wanita.

☆☆☆

Pangeran
Apakah sebenarnya inti kecaman
Apakah sebenarnya sumber keserakahan
Apakah sebenarnya Asas kekuasaan
Dan apakah sebenarnya hakikat kemanusiaan
Pangeran
Apakah ini? Apakah itu?
Dan Gusti
Apakah pula makna pertanyaan saya ini

Sapardi Djoko Damono “Dongeng Marsinah”

Oey Iey _ Serang, 21 Jan 2018