Bangun dari tidur

Tulisanku terhenti cukup lama. Meskipun memang banyak hal yang tidak menarik untuk di baca atau di lihat judulnya. Malu sekali rasanya, yang katanya gemar membaca dan menulis. Tetapi masih belum mampu menunjukkan loyalitas terhadap semua itu. Tiba-tiba saja sejuta alasan menumpuk menghampiri benakku, mengajak bibir ini mengatakan hal-hal yang memenangkan kemalasanku atau istilah ngetrend nya ngeles.
Tidak akan aku ucapkan serangkaian kata-kata ngeles itu disini. Karena aku sudah teramat malu menjelaskannya. Malas ya tetap saja malas namanya, apapun itu alasannya. Pekan ini aku pun mulai menyadarkan diri dari terhipnotisnya diriku oleh rasa malas. Aku mulai mengeluarkan buku yang masih terbungkus plastiknya untuk di baca. Kemudian di selingkan dengan membaca beberapa blog favoriteku. Alhamdulillah, pencerahan itu tiba hingga aku menuliskan jurnal tidak jelas yang satu ini.
Semangatku memang sedikit lenyap, setelah aku kehilangan beberapa grup menulis kemarin. Dan aku masih bingung harus bagaimana lagi. Rasanya kehilangan banyak kontak yang tidak di ingat begitu membuatku terlena. Namun, aku sadari membaca dan menulis tetap harus aku biasakan tanpa alasan apapun.
Sore itu, kala aku tenggelam dengan beberapa blog teman-teman tiba-tiba saja remaja di kampungku ramai berkunjung ke rumah. Ada apa? Dalam hatiku. Tetapi senyum mereka menyadarkanku untuk menyambutnya tanpa tanda tanya apapun. Singkat cerita, remaja-remaja ini mengajakku untuk kembali aktif berorganisasi. Aku pun belum mampu menjanjikan apapun, hanya merespon seadanya. Mereka cekatan memaparkan serangkaian acara demi acara yang akan terselenggara. Tanpa mencela aku pun mendengarkannya. Terlihat sekali semangat luar biasa dari remaja-remaja di hadapanku ini. “Wayahna nya teh, soalna nami teteh ntos di tulis ku abdi” begitu ucap salah satu dari mereka. Aku pun tersenyum dan menjawabnya “Insyaallah di usahakeun samampuna nya”.

Aku merenung, memikirkan hal apa yang akan ku awali setelah lama pakum. Rasanya diriku ini tidak akan bisa melakukan apapun. Entahlah, untuk menolak pun rasanya tidak mungkin. Bismillah, dengan menyebut nama Allah dan karena-Nya aku melakukan segala hal semoga senantiasa di mudahkan dan di beri keberkahan. Insyaallah, Aaamiiin…

Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi besok, lusa dan seterusnya. Tetapi setidaknya kita masih bisa merencanakan hal-hal baik dengan diri sendiri. Untuk bertemu dengan pribadi yang ingin merealisasikan hal yang tidasama. Sekecil apapun itu selagi baik, lakukanlah. Begitu pula sekecil apapun itu jika buruk, jauhkanlah!

Faman ya’mal mitsqola dzarrotin khairoyyaroh. Waman ya’mal mitsqola dzarrotin syarroyyaroh. ( Al-jaljalah:7-8)

Kehilangan dan kedatangan

Serang, 13 juni 2017

Terimakasih pak, sudah memilihkan sosok ibu yang begitu baik untuk menemani hidupku.

Hari ini aku kehilangan. Tidak ada yang menyenangkan dari sebuah kehilangan. Tentu saja. Bukan karena bentuknya yang membuatku sesak. Bukan karena nominal yang lenyap begitu saja. Ialah tentang sebentuk harapan. Harapan yang kemarin sudah menggaris hampir pada wujudnya. Harapan yang sudah mengepal penuh semangat di hadapan sepasang mata. Semuanya ter-putuskan oleh sebuah kehilangan. Tidak ada lagi angan itu yang tersisa di genggamanku.

Pak. Begitu luar biasanya wanita yang kau pilihkan menjadi ibu ku.

Hari ini juga aku benar-benar sepi. Tidak ada yang aku miliki untuk memulai harapan baru. Aku tidak mengerti dengan apa akan memulainya lagi?
Ketika itu juga, aku di bangunkan olehnya. Di bimbingnya untuk terus mengingat akan kuasa-Nya. Untuk senantiasa membuka kedua telapak tangan ini. Menengadahkannya dengan kerendahan hati. Mengucap kesungguhan cinta kepada-Nya bahwa sejatinya DIA lah satu-satunya yang sejati untuk tidak di hilangkan seumur hidup hingga abadi nanti.

Pak. Puterimu satu-satunya tengah bertambah usia.

Hari ini pula bertepatan dengan hilangnya satu jatah usia kehidupanku disini. Aku kehilangan lagi. Namun, jika setiap kehilangan tidak serta merta menumbuhkan sebuah rasa menyenangkan. Tanggalnya satu usia ini juatru membuatnya bahagia. Ia mencurahkan sejuta harapan dan Do’a indah untuk di langitkan bersamaan. Tentu saja sikapnya itu senantiasa membuat energi positif bagi hati dan jiwaku.

Pak. Kita harus tahu!.

Jika sebuah kehilangan menyergap hari ini. Akan ada sebuah kedatangan di hari berikutnya. Kejadian-kejadian yang memang datang dalam kehidupan kita ialah sebab-akibat dari penciptaan kita sebagai makhluk-Nya. Kehilangan atau pun kedatangan itu tak ubah bagaikan sebuah halte yang hanya soal waktu, kita akan melewatinya dan pergi melangkah darinya, perlahan dan meninggalkannya.

Terimakasih pak. Wanita yang kau cintai dulu, akan ku cintai seumur hidupku.

Berperang dengan Waktu

Malam itu tubuhnya seakan membeku karena dingin. Namun, terasa amat panas bagai terbakar. Entah apa yg tengah di alaminya. Tidak ada yg salah dlm kesehariannya jika di ingat-ingat. Air mata mengalir begitu saja seakan mewakili apa yang ingin di ucapkan nya. Dingin, panas, perih, begitu rintih di hatinya.
Terbayang kejadian di musim itu. Saat Ia tidak pernah mengeluhkan setiap derita dalam dirinya. Waktu menjatuhkannya seketika. Ia di hadapkan pada keadaan yg lebih mengerikan dari ini. Bahkan tubuhnya benar-benar membeku karena dingin bercampur suhu tinggi. Tidak ada yang tahu apa yng sebenarnya terjadi dlm dirinya. Bahkan Ia tidak mau menerima kenyataan jika seandainya Ia mengetahui keadaan yng sebenarnya.
Rani, masih menatap kosong resep dokter yang di terimanya. Ia benar-benar tidak merasa separah itu. Ia hanya merasa sakit biasa. Tetapi kenapa? Obatnya macam-macam seperti itu?
Miris sekali. Di saat seperti ini Ia tidak mampu memotivasi diri seperti yang biasa Ia lakukan. Ia tetap bisu menakut-nakuti dirinya sendiri dalam sepi. Ia takut gelap menyergapnya kembali.
Rani tidak ingin memperpanjang lagi kekhawatirannya. Ia sengaja menutup rapat segala yng terjadi dlm dirinya. Baginya, bukankah setiap jiwa memiliki kekuatannya tersendiri. Dan kekuatan itu tercipta dari kelemahan. Berusaha kuat dan pasti bisa. Begitu fikirnya.

Ah, mungkin memang faktor cuaca saja!
Rani bergumam membesarkan hatinya kembali.
Ia yakin, esok pagi. Ia akan mampu ceria seperti biasa☺

Tidak ada yang baik, juga tidak ada yang buruk

Minggu kmaren aku berkesempatan di ajak ibu untuk mengunjungi rumah Mbah. Memang sudah lama sekali kami tidak sempat menjenguknya. Jika di ingat2 terakhir ku jumpai saat masih duduk di bangku Madrasah Tsanawiah. Wah itu siii lama sekali.
Mbah segera duduk dari tidur santainya saat kami sudah menghampirinya. Tanpa jeda, bertanya ini itu kepada ibu juga aku. Teteh menjamu kami dengan cengiran khasnya. Cengiran polos yang nampak dari wanita usia matang sepertinya. Teteh ini memberi pengajaran berarti untukku.
____

Kita kerap kali merasa bahwa diri kita sudah baik, sedang baik, dan selalu belajar baik. Padahal diri kita sendiri tidak mengerti seperti apa kebaikan yang baik itu. Ada yang tidak belajar baik, tetapi hidupnya membawa kebaikan. Ada juga yang belajar baik tetapi sudah berani menilai orang lain. Dan orang yang di anggap baik semakin merasa bahwa dirinya lebih baik. Juga yang sedang berbuat baik, mencela seseorang yang tidak baik.
Penilaian sejati ialah milik-Nya. Baik atau pun buruk nya kita itu sudah pasti ada dalam diri kita sendiri. Ajak hati kita untuk menerima setiap ajaran dan petunjuk-Nya. Garis ketentuan dari-Nya sudah di tetapkan saat nama kita tertulis di Lauhil Mahfudz-Nya. Begitu pun dengan diri yang lain. Tidak ada alasan bagi kita untuk menentukan baik buruk nya seseorang. Setiap diri kita pula telah di berikan jalan nya masing-masing menuju kebaikan itu sendiri.
Seperti halnya kita berkunjung ke suatu tempat, berbeda alat transportasi, namun tujuannya sama. Tentu ada alasan tersendiri bagi setiap diri kita, sehingga menyebabkan kita berbeda transportasi menuju yang di tuju. Apalah lagi pantasnya kita mengukur kemampuan orang lain? Bahkan diri kita sendiri saja sering sekali kehilangan angka untuk mengukur diri.
Seperti juga halnya dengan profesi, tentu kita memiliki banyak sekali perbedaan bukan? Guru, Dokter, pedagang, nelayan, petani, buruh dan lain sebagainya. Kesemuanya memiliki keterkaitan satu dengan yang lainnya. Seimbang. Begitu kira-kira menyebutnya.
Orang akan di sebut pintar karena ada orang bodoh. Di sebut tampan atau cantik karena ada yang jelek. Di sebut kaya karena ada yang miskin. Di sebut sehat karena ada yang sakit. Poin seri untuk kacamata diri kita ini.
Lalu, mengapa sampai detik ini kita sering mengecilkan hal yang berbeda? Menganggap tidak ada kebaikan selain diri yang merasa baik. Meremehkan seseorang yang tidak sedang baik. Mengesampingkan orang-orang yang tidak belajar bersama meraih kebaikan versi diri.
Ayok lawan, pola fikir yang mencipta jarak setiap diri kita atas pengukuhan baik buruknya seseorang. Kita semua semata-mata adalah wayang-Nya. Lakon sebuah wayang tentulah mengikuti arahan dari Sang dalang.

Perbedaan kita, adalah kesamaan yang lain jenisnya. Berbeda jalan untuk sama-sama megharap ridho-Nya.

___

“Fat, tingali teteh anu polos di umur nu tos tua na. Sanajan eta teu ngertos nanaon oge. Dina ngarawat Mbah mani katingali nya’ahna. Allah Maha uninga. Teteh bisa wae parantos kenging Ridhona Allah di banding Urang sadaya”

Aku mengangguk pelan, sependapat dan takzim mendengar kalimat ibu.

Serang, 01 Juni 2017

Lupa yang berujung kehilangan


Ilmu dunia akhirat
wajib di tuntut di pelajari
Dari kecillah engkau mendapat
Sudah dewasa berguna kemana pergi

Belajar di waktu kecil
bagai mengukir dia atas batu
Belajar sesudah dewasa
Laksana mengukir di atas air

  • Judul lagu: Menuntut ilmu
  • Voc : Dra Hj. Nur Asiah Djamil

Teringat masih duduk di bangku Sekolah Dasar dulu, lagu ini sering sekali di gunakan saat sedang pentas seni Qasidah. Entah bagaimana respon pendengar di hatinya saat mendengarkan musik Qasidah yang kami sajikan waktu itu. Tetap terdengar tepuk tangan meramaikan setelah usai kami mengucap salam penutupan. Hihihi, lucu sekali jika di bayangkan.
Terlepas dari sempurna atau tidaknya kami bermain Qasidah. Yang tak kalah pentingnya ialah menguji mental kami semua. Begini kata teteh yang melatih kami waktu dulu
“Yang penting mah berani aja dulu, udah bagus itu juga!”
Yah, bisa di bayangkan reaksi kami yang memang masih imut-imutnya 😁, emang beneran cuma modal berani doang.

Kini, waktu bergerak cepat meninggalkan waktu itu. Semakin menjauh dan benar-benar jauh. Namun, lirik lagu penuh makna ini masih melekat pada ingatan untuk lebih dalam di cerna oleh pemikiran yang belum matang tentunya.
Memang benar sekali, kita lebih mudah belajar dan menghafal saat masih kecil. Hati kita pun lebih damai dan tenang jika di bandingkan kita yang kini. Atau mungkin hanya aku yang begitu☺.

Aku tergugu, menahan tangis karena malu. Melihat anak-anak kecil penghafal Al-Qur’an yang begitu lantang dan Fasih melafalkannya. Mereka dengan riang berjuang menfhafal di sepanjang waktu. Tak ada garis kebosanan pada wajah indahnya. Mereka sempurna melukis senyum keceriaan di setiap ayat yang di bacanya. Tabarakallah! Indah sekali menatap cahaya dari anak-anak ini.
Daya ingat untuk menghafal anak kecil memang lebih kuat di banding orang dewasa. Bisa di bayangkan, setiap waktu, setiap minggu, beranjak satu bulan hingga setahun dan bertahun-tahun. Yang di bacanya terus menerus ayat-ayat Al-Qur’an. Sehinggalah sampai dapat di hafal dengan baik. Maka sungguh, inilah kebahagiaan yang sebenarnya.
Aku tertunduk lagi, malu. Hendak di kemanakan mukaku ini. Jika di tanya tentang hafalanku? Semuanya bukan hilang begitu saja. Perlahan dan pasti ayat-ayat berguguran dari ingatan ini seiring berjalannya dosa-dosa yang melebihi hafalan tentunya.
Seingatku, abah pernah bilang. Satu dosa akan menggugurkan satu ayat. Hitunglah berapa banyak ayat yang hilang? Jika semuanya, sudah pastilah dosa itu sudah melebihi Quota hafalan kita.
Pernah mendengar cerita salah satu teman, tentang hafalan yang hilang begitu saja karena mendengarkan musik berlebihan. BERLEBIHAN ini yang perlu di ingat oleh kita. Tetapi setelah ia mengurangi kadar berlebihannya. Hafalannya berangsur kembali.
Semoga Allah mengembalikan hafalan kita yang sempat hilang ini. Kawan…
Syeikh Ali jaber pun berpesan untuk kita dalam acara tahfidz Qur’an di salah satu stasiun televisi suasta negeri kita,
“Cacat yang sebenarnya bukan yang tidak sempurna fisiknya, melainkan yang tidak bisa membaca dan menghafal Al-Qur’an”

Deggg!!!! Ini baru namanya Baper. Bukan sekali dua kali ibu turut menanyakan hafalanku. Namun, akunya yang terlalu sombong untuk me-muroja’ah nya. Teman-teman, aku rindu sekali kita yang dulu, yang rela duduk ngasal di depan kelas guna menghafal. Masihkah ingat detik itu???

Anak-anak kecil ini memberikan inspirasi untuk kita, bahwa kemauan itulah yang akan menghadirkan sebuah kemampuan. Insyaallah dengan izin Allah jallajalaluh.
Jadilah anak kecil lagi, yang terus belajar dan mengingat. Yang berani menyatakan kebenaran meski riuh gemuruh di tertawakan.

Dari kami, yang terinspirasi oleh kalian adik-adiku……

Al afwu minkum ayyuhal ikhwah🙏

Serang, 30Mei2017

Pelangi di Bulan Suci

26 Mei 2017. Adzan isya berkumandang sahut menyahut di antara mesjid dan mushola di kampungku. Malam ini adalah malam pertama kami melaksanakan tarawih kembali. Setelah 11 bulan yang lalu kami sempat berpisah dengan bulan Ramadhan ini. Adikku sudah rapi mengenakan mukena menungguiku yang masih bersiap-siap. Dengan sedikit merengek ia memintaku untuk segera. Demi mencegah terjadinya nyanyian dari ibu, aku pun sesegera mungkin berangkat dengan adikku yang kini sudah cengar cengir bersenandung. Duh! Dasar bocah yak😃.
Pelataran masjid ikut diramaikan oleh anak-anak yang kebanyakan seumuran dengan adikku. Sekitar 9 sampai 10 tahunan. Walaupun tidak sedikit juga ibu-ibu yang membawa serta balitanya. Sudah bisa di bayangkan tentunya, ramai dan riuh sekali suasana masjid ar-rafe’iyah dekat rumahku ini. Nampak wajah-wajah riang dari mereka semua, menyambut bulan penuh kebaikan ini. Tabarakallah! Indah sekali malam ini…
Sementara adikku bergabung bersama temannya. Aku pun satu shaf dengan temanku yang kebetulan membawa serta putranya yang berumur 2 tahun. Bukan main, rasanya shalat di antara anak-anak balita ini. Silahkan rasakan sensasinya secara langsung😊.
Malam pertama ini sudah memberikan pengajaran berarti untuk diriku sendiri. Bahwa tidaklah mudah bagi seorang ibu yang memiliki balita melaksanakan kewajibannya. Benar-benar harus terus memupuk kesabaran dan kecerdasan mengembangkan akhlaq seorang anak. Membimbing adikku sendiri saja yang sudah hampir ABG aku kewalahan. Pun membimbing diriku sendiri, masih asal-asalan. Aku belum bisa apa-apa? Adakah yang akan menerimaku yang tidak bisa apa-apa ini???

Deg!!! Hatiku mulai tak karuan oleh keadaan ini. Sedikit merasakan kesedihan di hati yang tengah bersemangat menyambut bulan Suci ini. Bagaimanalah ini denganku? Sepertinya memang tak nampak kelebihan apapun dalam diriku. Sementara sosok yang ku inginkan menjadi imamku kelak, tentulah yang lebih dekat kepada Rabbi. Allahu!!! Betapa aku ini tidak tahu diri.
Aku merenung, menimbang hal-hal yang begitu sulit untuk ku jabarkan pada diriku sendiri. Allah tentu punya rencana yang lebih indah dari yang ku harapkan juga yang di inginkan ibu. Aku menangis, menyaksikan betapa diri ini penuh kehinaan. Bagaimanalah aku hendak meminta banyak kepada-Nya, sementara nikmat-Nya tidak terhitung untuk seorang pendosa sepertiku!
Kesendirian ini, mengajarkanku untuk lebih dekat kepada-Nya. Untuk lebih teliti merawat ibuku sendiri. Untuk lebih sabar menghadapi keadaan. Dan masih banyak hal lain untuk kita jadikan sebagai hikmahnya. Walaupun aku hanya sedikit menyadari akan maknanya.

Separuh jiwaku meringkih, di antara keramaian balita dan teman-teman yang riang berbincang sepanjang jalan kami pulang. Separuh hati yang lain begitu hebat mendorong diri untuk selalu bahagia dalam keadaan apapun. Ujian ini belum seberapa. Meskipun aku memang sudah cukup bingung menanggapi pertanyaan ibu, dan beberapa guruku. Aku tetap hanya mampu diam dan tersenyum ramah. Meyakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.
Semoga Ramadhan ini mengantarkan kita semua kepada kenikmatan iman dan mendorong hati untuk selalu bahagia dan bersyukur atas kehendak-Nya!!!
Insyaallah…

Pamarayan, 27 mei 2017

Rindu pulang ~

Pulang, ke rumahMu

Di benak kita hadir sebuah rumah saat mendengar kata pulang. Kelelahan atas kekalahan maupun kemenangan dalam setiap langkah membawa diri kita kembali. Kembali pulang ke rumah. Kembali menguatkan diri dengan lingkungan di dalamnya. Alangkah indah sebuah rumah yang kita rindukan. Pulang dan rumah. Ada yang menunggu rupanya…

Rindu tiada terbendung, untuk melihat atap rumah. Untuk menengok seisi rumah. Untuk bercengkrama bersama pemilik rumah. Ragaku, bersama dengan yang ku sayangi. Di bawah naungan Dzat yang memiliki sifat rahman untuk jiwa kita semua. Aku hendak pulang.

Sebagaimana raga kita pulang dan rindu rumah. Seperti itulah kerinduan hati ini untuk pulang ke rumahNya. Mengetuk pintuNya. menginjakkan kaki di lantaiNya. Mengelilingi pusat kerinduan rasa rindu kepadaNya. Berderai jiwa ini mendambakan jumpa perwujudan pusat yang dirindukan.

Kebisingan di setiap langkah begitu membakar jiwa. Seakan masih bertumpuk asap rindu meski sudah pulang ke rumah. Berkabut hati ini, karena pilu menyaksikan rumahMu hanya dari ujung kain perwujudan rindu di setiap waktu. Ada yang menggebu sekali…

Menahun sudah hati ini merindu. Tiada henti berseru mengucap rindu. Sampai kemudian Dzat yang Rahim memanggil jiwa ini.

Dan Talbiyah menggema dalam dinding kerinduan hati ini. mengiringi kerinduan jiwa yang rindu pulang ke rumahMu.

Oey Iey || Serang, 04mei2017

Rindu pulang ~

Pulang, ke rumahMu

Di benak kita hadir sebuah rumah saat mendengar kata pulang. Kelelahan atas kekalahan maupun kemenangan dalam setiap langkah membawa diri kita kembali. Kembali pulang ke rumah. Kembali menguatkan diri dengan lingkungan di dalamnya. Alangkah indah sebuah rumah yang kita rindukan. Pulang dan rumah. Ada yang menunggu rupanya…

Rindu tiada terbendung, untuk melihat atap rumah. Untuk menengok seisi rumah. Untuk bercengkrama bersama pemilik rumah. Ragaku, bersama dengan yang ku sayangi. Di bawah naungan Dzat yang memiliki sifat rahman untuk jiwa kita semua. Aku hendak pulang.

Sebagaimana raga kita pulang dan rindu rumah. Seperti itulah kerinduan hati ini untuk pulang ke rumahNya. Mengetuk pintuNya. menginjakkan kaki di lantaiNya. Mengelilingi pusat kerinduan rasa rindu kepadaNya. Berderai jiwa ini mendambakan jumpa perwujudan pusat yang dirindukan.

Kebisingan di setiap langkah begitu membakar jiwa. Seakan masih bertumpuk asap rindu meski sudah pulang ke rumah. Berkabut hati ini, karena pilu menyaksikan rumahMu hanya dari ujung kain perwujudan rindu di setiap waktu. Ada yang menggebu sekali…

Menahun sudah hati ini merindu. Tiada henti berseru mengucap rindu. Sampai kemudian Dzat yang Rahim memanggil jiwa ini.

Dan Talbiyah menggema dalam dinding kerinduan hati ini. mengiringi kerinduan jiwa yang rindu pulang ke rumahMu.

Oey Iey || Serang, 04mei2017

Berguru Waktu📚


Menaklukan 400 halaman lebih dalam waktu kurang dari 6 jam. Itu tentulah waktu yang lama sekali jika di bandingkan dengan teman-teman yang lain. Aku yang dengan kesibukan tidak jelasku ini belum mampu mencapai kecepatan yang layak untuk membaca. Tetapi, ada alasanku yang lain yang lebih pantas aku ajukan. Aku memiliki kewajiban yang harus aku prioritaskan. Selain sebagai hamba dari sang pencipta. Aku pun adalah abdi dari seorang ratu di rumahku dan belakangan ini memang aku begitu menikmati senyumnya. Itulah juga sebabnya mengapa jarang sekali aku berkesempatan mampir ke rumah teman-teman di bulan-bulan terakhir ini. #Ngeles 😃
Di bagian ini, aku bukan hendak melontarkan segala urusanku saja. Aku hanya ingin menumpahkan sedikit dari yang telah ku eja. Pun sebelumnya aku sempat berceloteh tentang “takut” juga “pulang“.

Sejatinya diri kita yang memang selalu rindu pulang. Seperti itulah tujuan kita semua. Pulang dalam pelukan orang-orang tersayang. Pulang kepada Pemilik Alam jagat raya. Terlepas dari kepulangan kita nanti, langkah kita tetap terikat dengan sebab dan akibat nya. Ah, berbelit-belit sekali kita hidup ini. Mengejar hal duniawi hingga lupa pada detik-detik berharga. Kita kerap melupakan detik dimana kita di pedulikan Rabb dengan penuh kasih sayang-Nya.
Jangan mempersulit diri untuk pulang dengan alasan yang membelit nyali kita sendiri. Sekelam apapun masa lalu kita. Sesungguhnya Rabb yang begitu pengampun tentu membuka pintu-Nya menyambut kepulangan kita di jalan-Nya. Sekalipun kita harus merangkak, teruslah maju dan jangan lagi menoleh ke belakang. DIA-lah Rabb yang Maha Membolak-balikkan hati setiap hamba-Nya. Kita punya kesempatan!
Di saat diri sedang berusaha memperbaiki diri. Banyak hal tentu akan terjadi. Olok-olokan mereka atau bahkan ketidak percayaan mereka. Kita merasa cemas akan itu. Padahal jelas itu hanya ketakutan yang di buat-buat oleh nyali kita sendiri. Bukankah engkau sudah terbiasa menumpas lawan-lawanmu dengan s*muraimu itu? Lawanlah dirimu sendiri.
Hanya samurai sejati yang tiba pada titik itu. Di titik ketika kau seolah bisa keluar dari tubuh sendiri, berdiri, menatap refleksi dirimu seperti sedang menatap cermin. Kau seperti bisa menyentuhnya, tersenyum takzim, menyaksikan betapa jernihnya kehidupan. Pulang, memeluk erat semua kesedihan dan kegembiraan” Pulang 📖 Hal:388

Mengalahkan rasa takut atau malu seumur hidup. Darimana kita berasal? Kemudian siapa orangtua kita? Dan bagaimana bisa kita melakukan hal-hal yang membuat sesal di sepanjang perjalanan? Kita membutuhkan kejujuran pada diri sendiri. Untuk kemudian mengakuinya di hadapan Rabb Yang Maha Tinggi. Jangan malu melakukannya, luapkan segala kesesalan diri dan akui seluruh kekhilafan yang pernah di lakukan. Merintihlah kita di hadap-Nya. DIA Yang maha Tahu seberapa tulusnya hati kita. Bukan Mereka yang sampai detik ini masih melotot mengucilkan diri. Kita memiliki Kekuatan dari sesal yang penuh kesungguhan!

Bacalah! (Al’alaq:1)

Sepenggal ayat suci Al-Qur’an ini adalah termasuk wahyu pertama yang di turunkan kepada Kekasih-Nya yang juga Junjungan kita semua. Maka kita tidak perlu banyak alasan untuk membaca meski masih mengeja. Terus mengeja meski lupa melafalkan setiap hurufnya. Terus mengingat meski hanya mampu melihat jenis-jenisnya. Tidak ada alasan, untuk menyerahkan harapan kita kepada waktu yang di anggap kelam. Kita tetap punya peluang!
Waktu selalu membawa kita kepada hal-hal yang semula kita lawan habis-habisan. Tetapi waktu adalah juga guru terbaik yang harus kita temani, untuk bercengkrama dan menguatkan diri kita. Menghilangkan setiap jenis ketakutan yang mengakar tumbuh dalam tubuh.

Pulanglah. Untuk memenuhi panggilan-Nya. Mari membaca setiap peristiwa yang menakutkan jiwa. Kita bersama mengetuk pintu tuhan!
Belajar lebih baik bukan serta merta membuat diri sama dengan yang lain, setidaknya kita terus mencoba belajar lebih baik dari hari-hari kemarin.
Maka, tidak ada lagi alasan untuk tidak membaca bagi kita, kawan! 😊
Oey iey || Serang, 21mei2017

Aku memilih untuk bahagia

Kelemahan adalah pion kekuatan jiwa. Jangan menenggelamkan diri dengan kelemahan sendiri. Hiduplah, bangkitlah, sekalipun diri kita tidak mampu menyerang, upayakan untuk terus bertahan. Bertahanlah, sampai detik penghabisan. Habiskan setiap langkah dengan kebahagiaan. Berbahagialah, bersama siapapun yang mengelilingi jiwa kita.

Sampai kapanpun kita tentu menyadari bahwa diri kita ini tidak pernah merasa puas atas segala yang kita miliki. Diri kita yang terpenuhi segala harapan ini jelas tidak akan serta merta membawa harapan itu kepada sebuah kenyataan. Diri kita hanyalah pengikut kekal. Utamanya tentu Pengikut Sang Pencipta dan kekasih-Nya.

Belakangan ini, kita di sibukkan oleh sebuah harapan yang begitu indah di bayangkan. Harapan yang setiap dari jiwa kita tentu memiliki panah terhadap jiwa yang lain. Yang dengannya kita jatuh bangun mencipta musim di hati. Aduhai, kita benar-benar sulit mencernanya sendiri. Lagi-lagi, ini tentu keadaan pasti untuk jiwa kita bahwa sebenarnya kita di ajarkan untuk mengikuti setiap petunjuk-Nya.

Istafti Qablak

Setiap diri kita senantiasa ingin mengikuti kata hatinya. Tidak ada yang salah dengan ini. Dengan mempertanyakan setiap harapan pada relung terdalam yang melekat dalam jiwa ini dengan begitu juga kebahagiaan diri hadir bersama jawaban yang di idamkan. bagaikan tersiram mekaran bunga lalu kita melayang-layang di udara bebas dengan rona wajah penuh pesona – Amboi, Kita bahagia tak terkira.

kita adalah diri kita yang lain
Sadarlah wahai diri! saat kita memiliki sebuah harapan, di saat yang bersamaan pula harapan itu melekat pada diri yang lain. Jangan memaksakan kehendak diri, juga sama halnya untuk tidak memaksakan kehendak diri yang lain. Kita berhak mengharapkannya pun dengan dia yang berhak mengharapkan siapa saja yang tentu di inginkannya. Sederhana bukan.

perjalanan kita sebagai pengikut kekal
Siapapun diri kita. Ikutilah apa kata hati. Sekiranya harapan kita adalah bersamanya. Maka bahagialah bersama harapan itu. DIA yang menumbuhkan harapan kita kepadanya. DIA mengajarkan kita untuk mengikuti ajaran-Nya. Sejak kita berharap padanya saat itulah hati kita sedang bergantung kepada-Nya. Kita menginginkannya atas dasar kebaikan dalam dirinya. Hati kita ini jelas sudah memuji Sang Pencipta. DIA lah yang menciptakan dia yang kita harapkan. Maka, ikutilah apa yang sebenarnya hati kita ucapkan – DIAlah utama angan yang tertanam.

kebahagiaan kita adalah bersama
Apakah bahagia kita bergantung pada jiwa yang kita harapkan? Tentu tidak, selain bergantung kepada-Nya jiwa kita akan bahagia jika bersama – orang yang menyayangi kita sepenuh hati juga jiwanya. Banyak hal yang harus kita ikuti, salah satunya lagi adalah dengan ikut bahagia bersama harapan yang mengharapkan jiwa kita. Ini rumit sekali memang untuk di jelaskan, intinya bahagia adalah bersama bukan sendirian. Entah itu bersama orang yang semula tidak kita harapkan sekalipun, bisa saja dia yang menuntun kita pada pintu kebahagiaan dari arah lain. Bukan sendirian menunggu harapan yang pintunya selalu tertutup tak menjamu kita untuk singgah di dalamnya.

kelemahan ialah sumber kekuatan
Jatuh, jangan lantas mengguling-gulingkan diri kemudian. Berlatihlah memegang erat sebuah dahan untuk tertatih bangkit dan bertahan. Akui saja bahwa diri kita telah salah mendengar kata hati. Pandanglah jalan-Nya. Kita telah menyimpang. Jangan, ku mohon janganlah kita menjerit kesakitan. Rasakanlah, kita memiliki sayap untuk terbang. Kemudian melayang meninggalkan jurang yang kelam.

Waktu kita mungkin tidak akan lama lagi. Sebentar saja mari kita luangkan untuk membenamkan harapan yang menyakitkan itu. Berbahagialah bersama mereka yang sibuk menumbuhkan harapan untuk membahagiakan jiwa kita. Tidak ada yang salah, dia memilih untuk memilih yang lain. Bukankah kebahagiaannya juga akan membahagiakan kita? Itulah cinta.

Cinta bagaikan warna. Ada merah – jingga – kuning – hijau – biru – nila – ungu – itulah pelangi. Perbedaannya memberikan pesona bagi sepasang mata kita.

Mari kita bahagia bersama cinta yang di gariskan oleh-Nya.

Bisikkanlah Aku mencintaimu

(Minimal untuk diri kita sendiri)