First blog post

This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

post

Advertisements

Senja dan cinta (Story)

Aku terpaku melihatmu bersamanya. Gadis itu nampak cantik sekali dengan balutan gamis yang anggun. Dan kamu merangkulnya penuh mesra. Entah apa yang kurasa. Aku mengurungkan niat untuk melangkah, memilih balik kanan dan kembali mencari destinasi wisata yang lain. Namun, kehendakNya berbeda dari yang kita rencanakan. Kamu ternyata sudah melihatku sebelum aku beranjak pergi. Kamu dan gadis di sampingmu itu kini menyapaku dengan senyum ramah yang indah.
Maryam, kamu disini?” Katamu.
Aku tersenyum ramah membalas sapa darimu.
Perkenalkan. Ini Nurul, kami menikah satu bulan yang lalu. Undangannya sampai gak?” Katamu lagi kemudian.
Iya. Sampai kok. Hanya saja kebetulan gak bisa datang. Mohon maaf ya!” Aku menjelaskan semampunya.
Ah tidak apa-apa Mba. Saya tetap senang lho bisa ketemu sama Mba meskipun disini. Mas Rudi sering sekali cerita tentang Mba” Gadis di sampingmu ikut berbicara dengan begitu manisnya.
Oh ya! Seharusnya saya lebih berusaha untuk datang. Jadi tidak enak begini. Omong-omong Selamat ya! Semoga Sakinah Mawaddah Warohmah” ucapku sembari menjabat tangan gadis di sampingmu dan memeluknya singkat. Sementara kepadamu, aku sampaikan dengan menganggukkan kepala sebentar. Kamu membalasnya juga dengan begitu. Kalian terlihat bahagia sekali, batinku.
Aaamiiin” Serempak kalian meng-aminkan do’a dariku.
Omong-omong Mba sama siapa?” Gadis di sampingku meluncurkan pertanyaan yang sebenarnya tidak mampu untuk ku jawab.
Sedang menunggu teman” Jawabku tegas dengan menampakkan wajah sumringah yang semoga tidak terlihat adanya kebohongan. Tentu saja, aku memang sedang menunggu teman hidupku, gumamku.
Kalau memang temanmu tidak jadi datang. Kita bisa menemanimu Mar” Kamu dengan wajah santun menawarkan hal yang tentu saja tidak akan kusetujui.
Iya Mba” Gadis di sampingmu pun tidak jauh berbeda dengan dirimu.
Terimakasih untuk penawaran yang menyenangkan ini. Tapi janji kan harus di tepati. Nanti kalau ternyata temanku juga mencari dan tidak berhasil bertemu. Aku yang salah” Jelasku kemudian sembari tertawa renyah memastikan keadaan dengan baik.
Ummmm… Benar juga ya Mba” Seru gadis di sampingmu dengan senyum yang merona indahnya. Ah, aku pun terpesona. Apalagi dengan dirimu?
Ya sudah. Have a nice day ya Mar. Kami duluan saja kalau begitu” Kamu tersenyum lagi dan memberi isyarat gadis di sampingmu untuk ikut berpamitan kepadaku.
Mari Mba” Gadis di sampingmu merangkulku sekali lagi, tersenyum lalu melangkah pergi.

Kalian pergi beriringan, menguarkan aroma kepedihan yang tiba-tiba menyeruak di hatiku. Entah apa sebabnya aku pun tidak mengerti. Bukankah Mas Rudi hanya bagian masa lalu yang tidak begitu ku ingat. Tetapi mengapa euforia yang ada seperti lenyap menguap? Entah tersebab apa. Aku masih mematung, menyaksikan menara yang tinggi dan kepergian kalian yang mulai hilang di telan kerumunan pengunjung.
Semilir angin senja menerpa wajahku dengan kehati-hatian. Mereka seakan tahu bahwa diriku akan jatuh. Mereka seakan mengerti bahwa ragaku bagaikan daun kering yang mudah gugur dari tangkainya.

Apakah laki-laki memang mudah mengubah sebuah rasa begitu saja? Aku ingat sekali Mas Rudi waktu dulu. Berterus terang memberikan harapan kepadaku di hadapan orangtuaku. Aku ingat sekali Mas Rudi yang selalu setia menunggu jawaban dariku. Sampai, waktu yang tak ku duga itu datang. Mas Rudi di pindah tugaskan ke luar kota bersama dengan komunitas dan team kerjanya. Mungkin bersamaan dengan gadis yang bernama Nurul tadi. Di saat jarak membentang diantaraku dengan Mas Rudi, orangtua kami membuat kesepakatan yang hingga kini belum ke mengerti. Dan aku, tidak pernah berkomunikasi dengan Mas Rudi. Kami hanya kenal saat acara peresmian PonPes tempatku mengabdi dulu. Mas Rudi dan aku pun tidak saling menyimpan kontak. Benar-benar begitu adanya. Begitupun aku, tidak begitu yakin terhadapnya.
Tetapi, lain rasanya saat melihat Mas Rudi bergandengan mesra bersama gadis yang bernama Nurul tadi? Dan jelasnya, gadis itu sudah di halalkannya! Oh Rabbiiii… Hatiku berhamburan.
Ah, cerita cinta macam apa yang sebenarnya terjadi kepadaku ini? Gumamku sembari melangkah perlahan menjajaki luasnya taman di sekitar menara ibu kota ini. Sepertinya hanya aku yang sendirian berkunjung ke sini sore ini. Alangkah menyedihkannya engkau wahai Maryam, celotehku dalam hati.
Tidak mau kalah dengan pengunjung lain. Aku mengambil gambar yang meski objeknya bukan diriku. Setidaknya, menara tinggi dengan bias cahaya senja yang menyinari sebagian tubuhnya itu, ku abadikan dengan sempurna. Aku puas, melangkah pergi meninggalkan Monas dengan peristiwa yang memangkas hatiku sore ini.

Aku mencoba memahami. Bahwa cinta memang tidak semestinya memiliki. Bagimu.
Bahwa cinta semestinya di cari dan di perjuangkan. Pesan untuk diriku.
Well. I’am Ready to open My Heart!!!

Oleh : Oey Iey

Rindu, hilang dan kehilangan


Siapa yang sejatinya hilang dari sebuah “Kehilangan”? Aku ataukah Kamu?

Aku menatap halaman ke-99 yang sedari tadi ku baca berulang kali. Namun tetap saja tak kutemukan makna setelahnya. Aku diam, meresapi berbagai peristiwa kehilangan dalam hidup ini. Yang kemarin, sekarang atau pun kedepan nanti, bagiku tetap sama. Semuanya tak lebih dari sebuah perjalanan yang mengenalkan kita pada peristiwa kehilangan.

Dua hari yang lalu, aku iseng bertanya kepada ibu. Apakah di kehidupan yang kekal nanti aku akan di pertemukan kembali dengan kucing kesayanganku? Kemudian ibu menjawab dengan sebegitu indahnya. Mengertilah! Ketika kamu merasa teramat sayang, sekalipun hanya seekor kucing. Hati ini terasa pedih ketika merindukannya. Bahkan dengan beribu ketidakmungkinan yang mewujudkan jumpa bersama, hati ini tetap merekahkan rasa rindu.
8 tahun bersama, aku masih ingat bola matanya – hijau bening bercahaya, bulu hitam yang tebal dan halus, berbadan besar dan kekar, cakar yang sempurna namun terjaga. Ah, si Hitam yang selalu tidur bersama, makan bersama, meringkuk di pangkuanku, melingkari kakiku, hingga bermanja setiap waktu padaku. Sangat menyenangkan hatiku kala itu, dia adalah sahabat yang tidak pernah memakiku. Sahabat yang selalu mendengarkan keluh kesahku. Bahkan dia akan menyundulkan kepalanya ke wajahku jika aku meneteskan air mata. Romantis bukan? Aku tersenyum penuh rindu kepadanya. Hingga sampai dimana waktu menghilangkan sosoknya dalam hidupku. Kepergiannya yang tidak pernah ku inginkan dan terjadi begitu saja. Singkat! Bahkan lebih singkat dari mengucap kata SINGKAT itu sendiri. Dan aku bahkan tidak mampu melihat ia untuk yang terakhir kalinya. Aku menyesal, sungguh!

Kini, ketika waktu meninggalkan jauh dari peristiwa kehilangan itu. Aku terus menemukan kehilangan yang baru dan terus berganti selayaknya musim di alam bumi. Aku ataukah kamu yang kemudian akan bertemu peristiwa kehilangan? Bukankah sejatinya kita yang hilang adalah yang sebenarnya kehilangan?
Aku cemas, menunggu detik dimana aku melihat ragaku sendiri. Tanpa kamu atau siapapun yang biasa kutemukan dan ku ajak bercengkrama. Aku dan kamu entah akan bertemu ataukah tidak setelahnya?
Kamu dan dirimu itu berbeda. Ketika aku rindu kepadamu, sedang dirimu tidak bersamaku. Aku tetap menerbangkan nama indahmu ke atas langit yang luas disana. Namun dirimu, ada ataukah tiada di sampingku. Seperti tidak pernah menjadikanku sosok yang berarti. Kamu seakan hidup di dunia yang berbeda denganku. Berlalu tanpa bertegur-sapa. Begitu saja di setiap waktu.

DIA selalu seperti ini mewujudkan kasihNya. Mengajarkan setiap jiwa pada peristiwa kehilangan. Supaya pada akhirnya belajar tentang kesungguhan. Aku ataukah kamu yang memang belum sungguh-sungguh memiliki rasa rindu?

Waktuku mungkin tidak akan lama lagi, siapa yang tahu? Karena aku milikNya begitu juga dengan dirimu. Kamu yang kemudian DIA jadikan seperti itu dalam hidupku. Terimakasih! Hanya itu ucapku…

Oey Iey || Serang 13 Nov 2017

Hati seorang sahabat๐Ÿ‘ ๐Ÿ‘ 

Aku percaya bahwa hidup ini sementara dan sangat singkat. Itulah kenapa aku selalu mencoba menerima segala prilaku beragam dari setiap pribadi. Ketika seseorang berkata bahwa “dia tidak memiliki hati”. Bagiku itu ungkapan yang kurang tepat. Setiap dari kita tentu memiliki hati. Selain karena memang ia adalah organ tubuh kita sendiri. Juga karena kita sejatinya memiliki rasa. Rasa yang dengan seperti apapun kau menyebutnya itu merupakan wujud dari hatimu. Kau menyergah dengan bagaimana lagi juga tetap tidak bisa! Apakah lapar dan haus mu bukan sebuah rasa? Bagaimana mungkin kau tak memiliki hati ketika kau merasa haus, merasa ingin, merasa kehilangan dan sebagainya.

Kenapa bentuk hati dilambangkan sebagai simbol cinta? Ini bukan kebetulan. Tentu sudah di atur olehNya. Aku sejujurnya juga tidak mengerti. Tetapi setidaknya aku ingin mencoba memahami. Bahwa Allah mengajarkan kita agar memiliki hati yang baik. Yang penuh cinta. Yang penuh kasih. Yang lemah lembut. Yang mewujudkan keindahan bagi semua.

Aku mencintaimu sahabat, sekalipun diantara kita berbeda jalan. Kau tetap sahabatku. Yang tidak aku mengerti hingga detik ini ialah khilafku. Begitulah kelemahan manusia. Selalu tidak menyadari akan kesalahannya sendiri. Itulah aku sendiri salah satunya. Kau pergi, meninggalkan kenangan. Kau mengabaikanku, menyisakan tanda tanya yang tidak berkesudahan di hatiku.
Ketika kau mengira aku jahat. Aku tidak begitu. Ketika kau bahkan akan mengorbankan jiwa ragamu jika aku baik. Aku pun begitu, bahkan akan selalu seperti itu. Setidaknya saat kau menganggapku jahat dan akan membunuhku. Aku tetap mencintaimu.
Pergilah dengan segala amarahmu, jangan ragu untuk menyia-nyiakan aku. Aku sudah menempatkanmu sebagai sahabat yang baik. Dan tetap begitu.

Allah mengajarkan kita semua agar tetap sabar dalam ketaatan. Ketika siapa saja yang bersikap menyakitkan hati. Tidak perlu kita tanggapi. Biarlah hidupnya begitu, dan kita tetap begini. Bukankah berlomba-lomba dalam kebaikan itu yang semestinya kita tanamkan.

Dan kita semua di cipta dengan memiliki hati. Begitu juga diriku.

Serang, 09 Nov 2017

Esa dan cinta

Disini kutemukan diskriminasi yang amat menonjol. Setelah meneliti asal muasalnya, sepele sekali. Aku merasa miris menyaksikan semua ini. Jika saja, aku mampu meluruskan kesalahpahaman yang terjadi. Rasanya mungkin tidak akan seburuk ini. Namun apalah daya, ketika posisi diri ada di sudut yang memang tersudutkan. Ah, mau bagaimanapun juga akan ditempatkan di sudut saja.
Apa salahnya dengan perbedaan suku? Bukankah negara tercinta kita mengakui keanekaragaman itu! Apa beratnya bertoleransi antar agama? Bukankah Pancasila saja berketuhanan Yang Maha Esa. Dan itu ada di poin pertama. Jelas sudah, bahwa hidup ini yang paling utama adalah meng’Esakan tuhan kita.

Ketika seseorang itu dianggap tak berguna sekalipun, suatu saat kita pasti merasa kehilangan bukan? Lihatlah diri yang dengan mudah mendiskriminasi itu. Merasakan gundah juga atas kehilangan.
Negara tercinta kita terbentuk dari sebuah perbedaan yang memiliki cinta yang sama. Yaitu mencintai bangsa ini tentunya. Dan lingkungan kita, ada di bagian kecil dari bangsa ini. Tidak perlu menutup sebelah mata untuk melihat siapa saja yang terlahir berbeda. Semua memiliki kesempatan untuk hidup dan belajar. Sebagaimana tuhan kita memberi kesempatan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Untuk apa meninggikan sikap diskriminasi. Yang pada akhirnya memporak porandakan kesatuan kita sendiri. Untuk apa menutup telinga agar tak mendengar alasan baik guna membenarkan fikiran sendiri. Yang pada akhirnya membakar hati sendiri. Ah, aku sungguh bingung harus bagaimana. Sebenarnya aku cinta lingkunganku. Kalian yang semuanya memiliki pola senyum penuh warna nan indah. Iya, itulah kalian yang sama-sama hidup di negara tercinta kita ini.
Ayok sama-sama kita tanamkan cinta. Minimal mencintai lingkungan kita sendiri. Hingga cinta di dada kita terus merekah sampai membumi di tanah air ini.

Aku rasa, diantara kita harus ada cinta yang sama. Itu saja. ๐Ÿ˜‰

Di ujung pena๐Ÿ–Œ


Ketika sebuah rasa menjadi perkara yang membuat luka. Lantas bagaimana kita menyikapinya?
Tidak ada cinta, tanpa seizin-Nya. Tidak ada benci tanpa kehendak-Nya pula. Terkadang cinta dan benci itu ialah kesatuan rasa yang tak mudah di sergah salah satunya. Kadang kita merasa cinta, kadang juga sebaliknya. Ah, alangkah rumit sekali dunia rasa yang tercipta di muka bumi ini. Aku, seketika merasa jera.

Aku fikir, kamu tak pernah memiliki rasa yang sama denganku. Itulah mengapa kamu bersikap sedemikian rupa terhadap diri ini. Kamu benar. Tidak ada yang salah dengan sebuah rasa. Tidak ada yang harus di targetkan dalam setiap hal. Menjalani hal sedemikian adanya. Mengalir bak air sungai mengalir hingga samudera nan luas menggelorakan mata memandang.
Aku tersenyum menyimak apa yang telah kudengar seterusnya.

Siapa yang kujadikan sandaran saat rasa ini berhamburan? Tentu kepada-Nya aku kembalikan segala yang tengah kurasa. Segala yang mendera jiwa. Segala hal yang menusuk hatiku – pedih. Karena semula, DIA yang menanamkan rasa itu padaku. Karena semula, DIA jua lah yang mempertemukanku denganmu. Kamu bagai satu panah yang tepat mengenai ulu hatiku. Teramat dalam hingga sulit untuk ditarik kembali.

Mungkin, aku tidaklah lebih baik untuk dirimu menurut-Nya. Mungkin, aku sedang duduk pada sebuah ayunan rasa yang kemudian di gerak maju mundurkan oleh-Nya. Mungkin, aku serupa bunga yang takkan panjang usia. Mungkin, akulah sebuah daun yang mengering dari tangkainya.

Tersenyumlah, untuk cinta yang hadir dalam hidupmu. Karena kamu pun akan merasa cinta kepada sosok hamba-Nya. Siapa saja yang dikehendaki oleh-Nya.

Serang, 30 okt 2017

Tak Lagi Sama

Kamu tersenyum menyebut namaku tepat dihadapanku. Kemudian aku tidak dengan segera menjawab sapa darimu. Aku masih mengumpulkan energi untuk menepis luka yang sempat kau cipta. Sudah sirna jika kau tak nampak kembali. Mengapa? Kau seperti ingin aku jatuh lagi? Gumamku.

“Bagaimana kabarmu?” Katamu.
Kamu kini sudah duduk tepat dihadapanku. Kita hanya terpisah oleh meja makan yang sudah dihiasi makanan favoritku. Kamu tentu tahu.
Baik. Kamu?” Jawabku tanpa mau menatap kamu yang pasti tengah melihat wajahku.

“Maafkan aku. Waktu itu harus pergi begitu saja”
Ucapmu tanpa basa-basi.
Sudah jalannya seperti ini. Allah Maha Tahu segalanya” Jawabku sambil terus mencoba menghabiskan makanan yang ada tanpa menoleh ke arahmu.
Kamu sudah menikah?” Katamu lagi tanpa basa-basi.
Aku hentikan sejenak makanku untuk menatapmu. Membalasnya dengan tersenyum yang sejujurnya tidak ingin kulakukan.
Seharusnya, kita sudah . . .” Kamu menghentikan ucapanmu saat melihatku membalas sebuah pesan.

“Sudahlah. Bukankah kesempatan hidup kita itu hanya sekali. Begitupun dengan perjalanan kita!”
Aku menegaskan dengan wajah tanpa ekspresi.
Apa kau mau memaafkanku?” Katamu kemudian.
Minta maaflah pada orangtuaku” Jawabku.
Kini kamu hanya mampu tertunduk entah pilu atau malu karena ulahmu sendiri. Aku pergi, meninggalkanmu yang masih memanggil-manggil namaku.

๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ

Aku bahkan belum mencintaimu saat kau datang melamarku waktu itu. Aku hanya mencoba menerima jalan dariNya yang kemudian mempertemukan dengan sosokmu. Kamu yang kemudian mengingkarinya begitu saja dan pergi entah ke negeri apa. Tugas, katamu waktu itu. Aku tetap tidak terima alasannya. Bagiku, kamu hanya penguji istiqomahku semata.
Kini, harapanku tidak lagi sama. Allah gantikan dengan sebuah rasa cinta. Cinta yang baru aku rasa. Dibalik kerinduan padaNya.

Ada rahasia dibalik rahasia.

Sumber: Wanita tangguh
Oleh : Oey Iey
Serang, 23 okt 2017

Ajari aku berfikir


“Teteh sudah baikan?” Tanyaku saat melihatnya bercucuran keringat karena aktifitasnya.
“Alhamdulillah neng. Aku liat foto yang kamu upload semalem. Jadi pengingat sekaligus penyemangat menghadapi semuanya” Jawabnya dengan tegas namun tak menghilangkan wajah ramahnya.
“Alhamdulillah!” Lirihku melihat ia yang kini telah beraktifitas kembali.

Bersyukur kepada Allah, setidaknya dari kata-kata dalam foto tersebut mampu menguatkan hambaNya yang beriman dan mendekatkan jiwa kepadaNya.

“Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala, tetapi satu telunjuk (tulisan) mampu menembus jutaan kepala” – SAYYID QUTHB

Disisi yang lain hatiku menjerit pilu. Bagaimana jika sebenarnya aku tidak sebaik apa yang aku tulis yang kemudian di anggap baik oleh diri yang lain? Aku terus mencaci diriku yang penuh dosa ini. Sungguh, aku sendiri belum mampu memaknai setiap kata yang kutulis ini. Bahkan kalimat yang kemudian menjadi peluru kepada pola fikir bagi siapa saja yang membacanya. Aku malu, dan sedih.

Wahai jiwa yang dekat denganNya. Ajari aku, untuk belajar tafakur.

Itu saja


Itulah sebabnya mengapa kita di ajarkan untuk senantiasa menjaga hati, mata, juga telinga. Karena dari mata ini sepertinya aku telah lalai dalam menjaganya. Ada gambarmu yang kemudian masuk ke dalam dinding perasaan. Sehingga hatiku terus menyimpan kerinduan pada sosokmu. Kamu yang entah seperti apa terhadapku. Aku tetap rindu. Mendengar namamu, mengobati sedikit rindu dihatiku kini.

Bukankah kita adalah sama? Seorang Hamba dariNya yang dikarunia sebuah rasa.
Kemudian, apakah kita memiliki kerinduan yang sama?

– Persembahan Untuk Cinta,
(Antologi puisi OeyIey)

Selembar soal untuk dijawab seumur hidup

Sudah berapa kali musim berganti? Sudah berapa generasi yang datang dan pergi? Lalu disini kita sekarang hidup. Bersama generasi umat di zaman yang begitu maju.

Jika umat terdahulu berlomba-lomba ikut berperang mempertahankan agama. Karena cintanya kepada Allah dan RasulNya. Mereka itulah yang kita kenang sebagai para syuhada. Berbeda dengan umat di zaman sekarang. Karena syuhada bukan berarti berperang melawan musuh. Mereka yang syahid adalah jiwa yang berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Wallahu a’lam.

Bagaimana jika kita lihat dengan kehidupan kita yang sekarang. Kita yang hidup dengan nikmat kemerdekaan. Tanpa perlu berperang. Sekalipun harus berperang, satu-satunya musuh yang harus diperangi itu ialah diri kita sendiri. Diri kita ini, bagaikan musuh dalam selimut untuk kita sendiri.
Berjuang di jalan Allah. Banyak ragam dan jenisnya. Bagiku yang lemah imannya ini, terkadang selalu salah menafsirkan persoalan hidup. Padahal hidup memang bagaikan selembar soal yang kemudian kita sendiri akan menjawabnya dengan kesabaran dan keikhlasan karena Allah.
Aku sendiri bahkan tidak merasa sudah mampu bersabar dan ikhlas atas pemberian dariNya. Bagaimana tidak? Diri ini sering merintih kesakitan karena kelelahan. Bukankah sabar seharusnya bertawakal? Diri ini sering menangis atas ujian yang menimpa. Bukankah ikhlas seharusnya terus melapangkan dada penuh pengharapan yang baik?

Duhai Rabbi yang maha pengasih. Tabahkanlah jiwa-jiwa yang ringkih seperti kami.

Perjalanan hidup terkadang membawa hati ini pada sebuah rasa hampa. Seakan perjuangan dilakukan seorang diri tanpa sesiapapun yang menganggap berarti. Padahal Allah jelas sedang menyaksikan langkah kita. Padahal Allah begitu sayang terhadap kita.
Menangislah! Berdua saja, denganNya. Cukup DIA yang tahu bagaimana kita terluka. Bagaimana kita merasa teraniaya. Bagaimana kita tetap mencintaiNya. Dan rasakan, dekap kasihNya dalam hati kita. Kehangatan itu akan melekat sempurna bersama derai yang dibersamai pujian atasNya.

Maka Rabbi yang maha penyayang. Akan membelai hati kita dengan kedamaian.

Orangtua adalah ladang pahala bagi kita. Sudah sampai dimana kita berjuang untuknya? Tidak ada yang dihabiskan oleh orangtua dari kita. Kita sendiri yang sudah banyak menghabiskan miliknya hingga sekarang. Tidak ada yang dijadikan sebagai beban darinya. Kita sendirilah yang selalu membebankannya dari semenjak lahir. Ketika kita yang sekarang merasa amat berat merawatnya. Begitulah orangtua kita dahulu. Mungkin lebih berat dari diri kita.

Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shaghiraa

Lalu bagaimana dengan orangtua yang tidak bertanggungjawab kepada anaknya? Akan bagaimana memangnya? Sudah jelas kita tahu. Bahwa sejatinya yang terjadi dalam hidup ini adalah atas kehendakNya. Allah tidak akan menguji seorang hamba diluar batas kemampuannya. Ingatlah selalu.
Lalu aku merasa sangat berdosa. Telah berandai-andaikan seorang ayah yang datang kemudian menggenapi perjuanganku. Aku sering kali menangisi kepergiannya yang tidak dimengerti akal sehatku. Bahkan hingga detik ini, anganku terus melekat dalam benak. Ingin diperlakukan sebagai seorang anak olehnya.

Laa haula walaa Quwwata illaa billah

Keheningan tercipta disini. Tidak ada yang kuungkapkan kepada siapapun yang menangkap cermin diri. Hanya langit, yang kemudian menangis di senja ini . . .
Begitu romantisnya Allah menghibur hati. Aku meleburkan rindu bersama gemericik hujan yang tumpah ke bumi.

Mari terus berjuang untuk hidup yang penuh dengan cinta dan rindu kepadaNya juga kekasihNya.

Oleh : Oey Iey _ Serang, 18 Okt 2017

Bukan hanya Aksara tetapi juga Realita

Aku meraba kulitnya yang sudah mengering dan hampir bersatu dengan tulang belulang di tubuhnya. Setiap kali ia melangkahkan kakinya, terdengar gesekan sendi-sendi miliknya, bersamaan dengan bunyi tongkat yang ia pegang.
Kemarin mah masih bisa sujud. Ini udah nggak kuat rasanya” Begitu lirihnya saat aku membantunya memakaikan mukena.
Semampunya saja Nek. Nu penting kan niatna sareng usahana” Aku berusaha mengingatkan. Padahal aku yakin sekali ia lebih paham dan mengerti.
โ—‹โ—‹โ—‹
Sebagai generasi muda yang masih kuat jiwa raga seharusnya kita malu. Aku khususnya, masih dibantu Alarm di layar ponsel. Guna mengingat waktu yang wajib. Padahal seharusnya, kita i’tikaf menunggu adzan datang berkumandang. Menunggunya dengan penuh kerinduan. Ah, alangkah lemahnya imanku ini.
Melihat nenek yang begitu giat menunggu waktu wajib, amatlah jauh berbeda dengan diriku yang meski sudah mendengar alarm atau adzan berkumandang sekalipun tetap tak lantas bersegera beranjak dari aktifitas duniawi. Sungguh, sudah benar-benar jahiliyah sekali diriku ini.
Nenek juga tidak pernah bosan menghafal beberapa ayat suci yang sebelumnya sudah ia hafal. Sekarang, kondisinya sudah tak mampu melihat, namun semangat menghafal terus tumbuh dihatinya. Terkadang, mengajakku untuk membenarkan hafalan miliknya. Tentu aku mampunya dengan melihat mushaf. Hehe.
Well, sampai dimana hafalanku? Aku hanya mampu tertunduk malu menjawab pertanyaan yang setiap hari aku layangkan kepada diriku sendiri ini.
โ—‹โ—‹โ—‹
Di tengah malam, tak jarang Nenek merintih kesakitan karena tulangnya yang ngilu. Tak jarang pula ia mengeluhkan dinginnya cuaca meski sudah dibalut dua selimut sekalipun. Aku tak jarang juga meneteskan air mata kesedihan atas kondisi yang di alami Nenek. Entah, ada ketidakrelaan yang begitu ingin ku luapkan kepada pihak-pihak yang seharusnya bertanggungjawab terhadap kondisi nenek sekarang.
Memang Ironi sekali jika membandingkan dengan putranya yang berada jauh disana. Mereka bertahta dan bergelimang harta. Bahkan mampu berhaji dan umrah melihat ka’bah guna mengharap Ridha Illah semata. Mereka lupa bahwa ada Ridha Allah yang paling dekat disini, di negaranya sendiri. Bahkan dengan jarak yang tidak begitu jauh jika di bandingkan dengan ka’bah. Bukankah berHaji itu dilakukan bagi yang mampu? Lantas, bagaimana jika diri kita sendiri tidak mampu menafkahi orang tua lalu dengan angkuhnya pergi haji bahkan tidak berunding dengan orangtua sendiri. Aku berharap ada taufiq dan hidayah dari Allah kepada hati-hati yang semulanya bersih ini untuk kita semua. Aaamiiin . . .
Wahai generasi muda yang katanya ingin bahagia. Entah harus dengan kata apa aku menyampaikannya. Bahwa kebahagiaan sejati itu ada ketika kita mampu melihat orangtua tersenyum hingga masa tuanya. Entah dengan potret yang bagaimana aku menggambarkannya. Bahwa pola senyum yang begitu indah ada saat orangtua kita melangitkan nama kita dalam ritual resminya. Setiap hari, setiap waktu, bahkan setiap detik. Nama kita terus melambung di ketinggian beriringan puja-puji atasNya.
Bukankah suatu saat nanti kita pun akan menua? Kita pula akan kehabisan tenaga. Bahkan hanya mampu terbaring diatas ranjang. Lantas, bagaimana jadinya jika kita sorang diri? Oh, akan sedih sekali rasanya.

Waktu adalah kunci dari langkah kehidupan yang kita jalani ini. Apa yang kita mampu bergantung dari batas waktu yang kita miliki. Dan sudah berapa waktu yang kita gunakan hingga pada usia kita saat ini? Juga, hal apa saja yang diupayakan dalam dokumen waktu milik kita? Entahlah, aku pun masih meraba-raba waktu yang kuhabiskan semasa hidup ini.
Sudah semestinya kita membaca. Bukan hanya aksara, tetapi juga realita. Bacalah, setiap kejadian-kejadian yang terjadi diatas hamparan kerajaan milikNya ini. Renungkan dan pahami. Bahwa titik koordinat dari perjalanan hidup adalah pertemuan dengan kehidupan yang sejati.

Sehat selalu wanita-wanita hebatku๐Ÿ˜Š
I Love you~

Sumber: Wanita tangguh

Oleh : Oey Iey || Pamarayan, 14 Okt 2017